Selasa, 11 September 2018

Kisah Imam Salamah bin Dinar


Dengan memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala, kami akan menceritakan secercah kehidupan salah seorang imam yang hidup pada masa tabi'in. Beliau adalah imam ahli hikmah pemberi nasihat yang jujur. Beliau adalah imam SALAMAH BIN DINAR. Nama kunyah beliau adalah ABU HAZIM AL-A’RAJ.

Berikut ini sekilas tentang perjalanan hidup beliau.


KISAH PERTAMA:

Suatu ketika Salamah bin Dinar menyertai pasukan muslimin menuju ke wilayah Romawi untuk berjihad fii sabilillah. Setelah sampai pada pos yang terakhir, pasukan beristirahat terlebih dahulu sebelum menghadapi musuh dan terjun dalam kancah peperangan. Pasukan dipimpin oleh seorang komandan dari bani Umayyah. Pada kesempatan ini ia mengutus seseorang kepada Abu Hazim.

Utusan itu berkata: Amir memanggil anda agar anda membacakan hadits kepada beliau dan ingin belajar dari anda.”

Maka Abu Hazim menulis surat untuk disampaikan kepada komandan pasukan, isi surat tersebut adalah sebagai berikut:

“Wahai komandan, saya sudah pernah berjumpa dengan para ahli ilmu dan mereka tidak pernah membawa ilmunya kepada orang- orang yang mengutamakan dunia. Saya kira anda juga tak ingin saya menjadi orang yang berbuat demikian. Bila anda memerlukan saya, datanglah kemari. Semoga keselamatan bagi anda dan orang-orang disekeliling anda.”

Setelah membaca surat itu, komandan pasukan mendatangi Abu Hazim. Ia memberi salam lalu berkata:

“Wahai Abu Hazim kami sepakat dengan apa yang anda tulis itu, kami hargai nasihat anda. Tambahkanlah peringatan dan nasihat kepada kami, semoga anda mendapat balasan yang lebih baik.”

Kemudian Abu Hazim memberi nasihat dan peringatan. Diantara yang beliau sampaikan adalah:

Perhatikanlah apa yang anda sukai di akhirat, kemudian bersemangatlah untuk  mendapatkannya. Perhatikan pula hal-hal yang tidak anda sukai disana, lalu berzuhudlah darinya di dunia ini.  Ketahuilah wahai komandan, jika kebatilan yang anda sukai dan anda biarkan merajalela, maka yang akan datang dan mengelilingi anda adalah orang- orang  bathil dan munafik. Adapun bila kebenaran yang anda sukai, niscaya anda akan dikelilingi oleh orang-orang yang baik dan suka membantu. Oleh sebab itu pilihlah mana yang lebih anda sukai.”


KISAH KEDUA:

Pada tahun 97 H, Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik pernah bertemu dengan Salamah bin Dinar di Madinah al-Munawarah kemudian terjadi dialog yang panjang antara sang khalifah dengan Abu Hazim. Dialog yang panjang tersebut saya ringkaskan dalam beberapa poin berikut ini:

Khalifah: “Wahai Abu Hazim, mengapa kita membenci kematian?”

Abu Hazim: “Karena kita memakmurkan dunia kita dan menghancurkan akhirat kita. Akhirnya kita benci keluar dari kemakmuran menuju kehancuran.”

Khalifah:  “Wahai Abu Hazim bagaimana cara kita memperbaiki diri?”

Abu Hazim: Dengan meninggalkan kesombongan dan berhias dengan muru'ah (menjaga kehormatan).”

Khalifah: Bagaimana cara memanfaatkan harta benda agar ada nilai takwa padanya?”

Abu Hazim:  Bila anda mengambilnya dengan cara yang benar dan meletakkannya ditempat yang benar pula. Lalu anda membaginya dengan merata dan berlaku adil terhadap rakyat.”

Setelah dialog itu berlangsung, beberapa saat kemudian sang khalifah melanjutkan dengan ucapannya: “Lalu perkataan apa yang paling besar manfaatnya?”

Abu Hazim: Perkataan yang benar, yang diucapkan dihadapan orang yang ditakuti dan diharap bantuannya.” ¬¬(Maksud dari ucapan ini adalah bahwa terkadang karena kita takut terhadap seseorang atau karena kita sedang mengharapkan bantuan seseorang, membuat  kita enggan untuk mengucapkan kebenaran di hadapannya jika dia memang sedang menyelisihi kebenaran. Wallahu A'lam¬

Khalifah: “Sedekah manakah yang paling baik?"

Abu Hazim: “Sedekah dari orang yang kekurangan kepada orang yang memerlukan tanpa menggerutu dan kata-kata yang menyakitkan.”

Setelah terjadi diolag, beberapa saat kemudian sang khalifah melanjutkan ucapannya: “Wahai Abu Hazim, maukah engkau mendampingi kami agar kami bisa mendapatkan sesuatu darimu dan anda mendapatkan sesuatu dari kami?”

Abu Hazim: “Tidak, wahai amirul mukminin.”

Khalifah : “Mengapa?”

Abu Hazim: “Saya khawatir kelak akan condong kepada anda, sehingga Allah menghukum saya dengan kesulitan di dunia dan siksa di akhirat.”

Khalifah: “Utarakan kebutuhan anda kepada kami wahai Abu Hazim.”

(Abu Hazim terdiam tidak menjawab sepatah katapun sampai sang khalifah mengulang-ulang pertanyaannya).

Khalifah: “Wahai Abu Hazim, utarakan hajat-hajatmu, kami akan memenuhi sepenuhnya.”

Abu Hazim: “Hajat saya ialah selamat dari api neraka dan masuk surga.”

Khalifah: Itu bukan wewenang kami.”

Abu Hazim: “Saya tidak memiliki keperluan selain itu wahai amirul mukminin.”

(Bagaimanakah jika ini terjadi pada zaman kita ini, jangankan seorang penguasa, seorang donatur saja maka mungkin akan menyebutkan berbagai keperluan. Mungkin akan meminta dibangunkan rumah, madrasah atau masjid atau lainnya dengan alasan sebagai sarana dakwah?! Ya Rabb, selamatkanlah kami dari fitnah dunia walau dengan dalih untuk dakwah).”

Khalifah: “Wahai Abu Hazim berdo'alah untukku.

Abu Hazim: Ya Allah, bila hamba-Mu Sulaiman ini adalah orang yang Kau cintai, maka mudahkanlah baginya jalan kebaikan di dunia dan di akhirat, dan jika dia termasuk musuh-Mu, maka berilah dia hidayah kepada apa yang Engkau sukai dan Engkau ridhoi, Aamiin.”

Salah seorang hadirin berkata: “Alangkah buruknya perkataanmu tentang amirul mukminin. Engkau sebutkan khalifah muslimin barangkali termasuk musuh Allah, kamu telah menyakiti perasaannya.”

Abu Hazim: “Justru perkataanmu itulah yang buruk. Ketahuilah bahwa Allah Ta’ala telah mengambil janji dari para ulama agar berkata jujur. Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذۡ أَخَذَ ٱللَّهُ مِيثَٰقَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ لَتُبَيِّنُنَّهُۥ لِلنَّاسِ وَلَا تَكۡتُمُونَهُ

"Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya.” (QS. Ali-Imran: 187)

Kemudian beliau menoleh kepada sang khalifah seraya berkata: Wahai Amirul Mukminin umat-umat terdahulu tinggal dalam kebaikan dan kebahagiaan selama para pemimpinnya selalu mendatangi ulama untuk mencari kebenaran pada diri mereka. Kemudian muncullah kaum dari golongan rendah yang mempelajari bebagai ilmu, mendatangi para penguasa untuk mendapatkan berbagai kesenangan dunia. Selanjutnya para penguasa tidak lagi mengindahkan ucapan para ulama, maka mereka pun menjadi lemah dan hina di hadapan Allah. Seandainya para ulama itu tidak tamak terhadap apa yang ada di sisi para penguasa, tentulah para penguasa itu akan mendatangi mereka untuk mencari ilmu.


Demikianlah kisah dari seorang ulama dikalangan para tabi'in. Beliau adalah termasuk diantara para salaf kita, maka hendaklah kita menjadikan perjalanan hidup mereka sebagai contoh dan berkepribadian dengan kepribadian mereka.

Lihatlah bagaimana keteladanan mereka dalam bermu’amalah dengan penguasa, ketegasan dan keberanian mereka, lihatlah bagaimana keikhlasan mereka dalam melakukan tugas dakwah menyampaikan kebenaran tanpa mempunyai tendensi keduniaan, mereka benar-benar ikhlas rela hidup dalam kekurangan demi menjaga muru'ah (menjaga kehormatan tidak meminta, tidak mengemis, dan lain sebagainya meski dengan atas nama dakwah).

Dan hal yang paling menonjol adalah bagaimana sikap para salaf kita yang sholih ketika dihadapkan dengan popularitas, yang mana sikap ini hampir punah dari para da'i yang menisbatkan diri mereka kepada dakwah salaf di zaman keterasingan ini.

Semoga pada kesempatan yang lainnya Allah memudahkan kami untuk menulis sepenggal kisah para salaf dalam menyikapi fitnah popularitas.

Semoga tulisan ini bermanfaat dan dapat menjadi penyemangat serta ibroh bagi penulis terkhususkan dan para pembaca pada umumnya. Wallahu waliyut taufiq

-----------------

Bagi yang ingin menambah wawasan tentang perjalanan hidup Imam Salamah bin Dinar ini hendaklah membaca :
- Thabaqaat Khalifah 264
- Taarikh Al-Bukhari 2/78
- Hilyatul Auliyaa' 3/299
- Tahdzib at-Tahdzib 4/143
- dan yang lainnya.
-------

Penulis: Al-Ustadz Junaid Ibrahim Iha Hafizhahullah

Disadur dari: Bundel AL-Ukhuwah Tahun-I, Cetakan MDHJayapura




Tidak ada komentar:

Posting Komentar