Dengan
memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala, kami akan menceritakan secercah
kehidupan salah seorang imam yang hidup pada masa tabi'in. Beliau adalah imam
ahli hikmah pemberi nasihat yang jujur. Beliau adalah imam SALAMAH BIN DINAR. Nama
kunyah beliau adalah ABU HAZIM AL-A’RAJ.
Berikut
ini sekilas tentang perjalanan hidup beliau.
KISAH PERTAMA:
Suatu
ketika Salamah bin Dinar menyertai pasukan muslimin menuju ke wilayah Romawi
untuk berjihad fii sabilillah. Setelah sampai pada pos yang terakhir,
pasukan beristirahat terlebih dahulu sebelum menghadapi musuh dan terjun dalam
kancah peperangan. Pasukan dipimpin oleh seorang komandan dari bani Umayyah.
Pada kesempatan ini ia mengutus seseorang kepada Abu Hazim.
Utusan
itu berkata: “Amir memanggil anda agar anda membacakan hadits kepada beliau
dan ingin belajar dari anda.”
Maka
Abu Hazim menulis surat untuk disampaikan kepada komandan pasukan, isi surat
tersebut adalah sebagai berikut:
“Wahai
komandan, saya sudah pernah berjumpa dengan para ahli ilmu dan mereka tidak
pernah membawa ilmunya kepada orang- orang yang mengutamakan dunia. Saya kira
anda juga tak ingin saya menjadi orang yang berbuat demikian. Bila anda memerlukan
saya, datanglah kemari. Semoga keselamatan bagi anda dan orang-orang
disekeliling anda.”
Setelah
membaca surat itu, komandan pasukan mendatangi Abu Hazim. Ia memberi salam lalu
berkata:
“Wahai
Abu Hazim kami sepakat dengan apa yang anda tulis itu, kami hargai nasihat
anda. Tambahkanlah peringatan dan nasihat kepada kami, semoga anda mendapat
balasan yang lebih baik.”
Kemudian
Abu Hazim memberi nasihat dan peringatan. Diantara yang beliau sampaikan
adalah:
“Perhatikanlah
apa yang anda sukai di akhirat, kemudian bersemangatlah untuk mendapatkannya. Perhatikan pula hal-hal yang
tidak anda sukai disana, lalu berzuhudlah darinya di dunia ini. Ketahuilah wahai komandan, jika kebatilan
yang anda sukai dan anda biarkan merajalela, maka yang akan datang dan
mengelilingi anda adalah orang- orang
bathil dan munafik. Adapun bila kebenaran yang anda sukai, niscaya anda
akan dikelilingi oleh orang-orang yang baik dan suka membantu. Oleh sebab itu
pilihlah mana yang lebih anda sukai.”
KISAH KEDUA:
Pada
tahun 97 H, Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik pernah bertemu dengan Salamah bin
Dinar di Madinah al-Munawarah kemudian terjadi dialog yang panjang antara sang
khalifah dengan Abu Hazim. Dialog yang panjang tersebut saya ringkaskan dalam
beberapa poin berikut ini:
Khalifah:
“Wahai Abu Hazim, mengapa kita membenci kematian?”
Abu
Hazim: “Karena kita memakmurkan dunia kita dan menghancurkan akhirat kita.
Akhirnya kita benci keluar dari kemakmuran menuju kehancuran.”
Khalifah:
“Wahai Abu Hazim bagaimana cara kita
memperbaiki diri?”
Abu
Hazim: “Dengan meninggalkan kesombongan dan berhias dengan muru'ah (menjaga
kehormatan).”
Khalifah:
“Bagaimana cara memanfaatkan harta benda agar ada nilai takwa padanya?”
Abu
Hazim: “Bila anda mengambilnya dengan
cara yang benar dan meletakkannya ditempat yang benar pula. Lalu anda
membaginya dengan merata dan berlaku adil terhadap rakyat.”
Setelah
dialog itu berlangsung, beberapa saat kemudian sang khalifah melanjutkan dengan
ucapannya: “Lalu perkataan apa yang paling besar manfaatnya?”
Abu
Hazim: “Perkataan yang benar, yang diucapkan dihadapan orang yang ditakuti
dan diharap bantuannya.” ¬¬(Maksud dari ucapan ini adalah bahwa terkadang
karena kita takut terhadap seseorang atau karena kita sedang mengharapkan
bantuan seseorang, membuat kita enggan
untuk mengucapkan kebenaran di hadapannya jika dia memang sedang menyelisihi
kebenaran. Wallahu A'lam¬
Khalifah:
“Sedekah manakah yang paling baik?"
Abu
Hazim: “Sedekah dari orang yang kekurangan kepada orang yang memerlukan tanpa
menggerutu dan kata-kata yang menyakitkan.”
Setelah
terjadi diolag, beberapa saat kemudian sang khalifah melanjutkan ucapannya: “Wahai
Abu Hazim, maukah engkau mendampingi kami agar kami bisa mendapatkan sesuatu
darimu dan anda mendapatkan sesuatu dari kami?”
Abu
Hazim: “Tidak, wahai amirul mukminin.”
Khalifah
: “Mengapa?”
Abu
Hazim: “Saya khawatir kelak akan condong kepada anda, sehingga Allah
menghukum saya dengan kesulitan di dunia dan siksa di akhirat.”
Khalifah:
“Utarakan kebutuhan anda kepada kami wahai Abu Hazim.”
(Abu
Hazim terdiam tidak menjawab sepatah katapun sampai sang khalifah
mengulang-ulang pertanyaannya).
Khalifah:
“Wahai Abu Hazim, utarakan hajat-hajatmu, kami akan memenuhi sepenuhnya.”
Abu
Hazim: “Hajat saya ialah selamat dari api neraka dan masuk surga.”
Khalifah:
“Itu bukan wewenang kami.”
Abu
Hazim: “Saya tidak memiliki keperluan selain itu wahai amirul mukminin.”
(Bagaimanakah
jika ini terjadi pada zaman kita ini, jangankan seorang penguasa, seorang
donatur saja maka mungkin akan menyebutkan berbagai keperluan. Mungkin akan meminta
dibangunkan rumah, madrasah atau masjid atau lainnya dengan alasan sebagai
sarana dakwah?! Ya Rabb, selamatkanlah kami dari fitnah dunia walau dengan
dalih untuk dakwah).”
Khalifah:
“Wahai Abu Hazim berdo'alah untukku.”
Abu
Hazim: “Ya Allah, bila hamba-Mu Sulaiman ini adalah orang yang Kau cintai,
maka mudahkanlah baginya jalan kebaikan di dunia dan di akhirat, dan jika dia
termasuk musuh-Mu, maka berilah dia hidayah kepada apa yang Engkau sukai dan
Engkau ridhoi, Aamiin.”
Salah
seorang hadirin berkata: “Alangkah buruknya perkataanmu tentang amirul
mukminin. Engkau sebutkan khalifah muslimin barangkali termasuk musuh Allah, kamu
telah menyakiti perasaannya.”
Abu
Hazim: “Justru perkataanmu itulah yang buruk. Ketahuilah bahwa Allah Ta’ala telah
mengambil janji dari para ulama agar berkata jujur. Allah Ta’ala berfirman:
وَإِذۡ أَخَذَ ٱللَّهُ مِيثَٰقَ
ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ لَتُبَيِّنُنَّهُۥ لِلنَّاسِ وَلَا تَكۡتُمُونَهُ
"Hendaklah
kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu
menyembunyikannya.” (QS. Ali-Imran: 187)
Kemudian
beliau menoleh kepada sang khalifah seraya berkata: “Wahai Amirul Mukminin
umat-umat terdahulu tinggal dalam kebaikan dan kebahagiaan selama para pemimpinnya
selalu mendatangi ulama untuk mencari kebenaran pada diri mereka. Kemudian
muncullah kaum dari golongan rendah yang mempelajari bebagai ilmu, mendatangi
para penguasa untuk mendapatkan berbagai kesenangan dunia. Selanjutnya para
penguasa tidak lagi mengindahkan ucapan para ulama, maka mereka pun menjadi
lemah dan hina di hadapan Allah. Seandainya para ulama itu tidak tamak terhadap
apa yang ada di sisi para penguasa, tentulah para penguasa itu akan mendatangi
mereka untuk mencari ilmu.
Demikianlah
kisah dari seorang ulama dikalangan para tabi'in. Beliau adalah termasuk
diantara para salaf kita, maka hendaklah kita menjadikan perjalanan hidup
mereka sebagai contoh dan berkepribadian dengan kepribadian mereka.
Lihatlah
bagaimana keteladanan mereka dalam bermu’amalah dengan penguasa, ketegasan dan
keberanian mereka, lihatlah bagaimana keikhlasan mereka dalam melakukan tugas
dakwah menyampaikan kebenaran tanpa mempunyai tendensi keduniaan, mereka
benar-benar ikhlas rela hidup dalam kekurangan demi menjaga muru'ah (menjaga
kehormatan tidak meminta, tidak mengemis, dan lain sebagainya meski dengan atas
nama dakwah).
Dan
hal yang paling menonjol adalah bagaimana sikap para salaf kita yang sholih
ketika dihadapkan dengan popularitas, yang mana sikap ini hampir punah dari
para da'i yang menisbatkan diri mereka kepada dakwah salaf di zaman
keterasingan ini.
Semoga
pada kesempatan yang lainnya Allah memudahkan kami untuk menulis sepenggal
kisah para salaf dalam menyikapi fitnah popularitas.
Semoga
tulisan ini bermanfaat dan dapat menjadi penyemangat serta ibroh bagi penulis
terkhususkan dan para pembaca pada umumnya. Wallahu waliyut taufiq
-----------------
Bagi
yang ingin menambah wawasan tentang perjalanan hidup Imam Salamah bin Dinar ini
hendaklah membaca :
-
Thabaqaat Khalifah 264
-
Taarikh Al-Bukhari 2/78
-
Hilyatul Auliyaa' 3/299
-
Tahdzib at-Tahdzib 4/143
-
dan yang lainnya.
-------
Penulis: Al-Ustadz Junaid
Ibrahim Iha Hafizhahullah
Disadur dari: Bundel
AL-Ukhuwah Tahun-I, Cetakan MDHJayapura

Tidak ada komentar:
Posting Komentar