Bersyukur merupakan suatu
tanda kebahagiaan. Karena dengan seseorang pandai bersyukur, berarti dia pandai
melihat nikmat Allah dan dia tahu betapa
besar nikmat Allah kepadanya. Bahkan jika seseorang pandai bersyukur atas
segala nikmat yang Allah beri, niscaya Allah tambahkan nikmat tersebut.
Allah
ta’ala berfirman:
وَإِذۡ
تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ
عَذَابِي لَشَدِيدٞ
“Dan
(ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan; ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur
niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari
(nikmat-Ku), maka pasti azabKu sangat berat’.” (QS. Ibrahim: 7)
Syukur
adalah menegakkan/menunaikan hak atas nikmat-nikmat Allah. Maka hendaklah
setiap diri mengaplikasikan syukur dalam kehidupannya, yang dalam hal ini mencakup
tiga perkara yakni sebagai berikut:
- Seseorang
harus mengetahui bahwa nikmat-nikmat yang ada padanya adalah berasal dari
Allah Ta'ala sehingga dia tidak boleh sombong sebagaimana kesombongan Qarun.
Seseorang harus meyakini bahwa nikmat yang Allah Ta’ala berikan kepadanya,
bukanlah karena kehebatan atau karena kepandaiannya. Namun semua
kenikmatan tersebut, berupa kesehatan, harta berlimpah, anak keturunan dan
lainnya adalah semata-mata datangnya dari Allah. Dan Allah Yang Maha Kuasa
berhak memberi kepada siapa yang Allah kehendaki atau menahannya dari siapa
yang Allah kehendaki.
- Menyebut-nyebut
nikmat Allah Ta’ala bersamaan dengan ia sandarkan nikmat tersebut
kepadaNya. Artinya, menyebut-nyebut nikmat Allah bukan dalam rangka
menyombongkan diri, namun dalam rangka bersyukur karena Allah senang jika
melihat bekas-bekas nikmatNya ada pada hambaNya. Oleh karena itu, jika
Allah Ta’ala beri nikmat janganlah
seseorang menyembunyikannya. Karena terkadang, seseorang lebih lihai dan
lebih senang menceritakan penderitaan dan duka laranya daripada
menyebut-nyebut dan menampakkan nikmat Allah yang ada pada dirinya,
sehingga yang terdengar hanyalah derita dan kesusahannya saja. Jika demikian,
maka kapankah dia menyebut-nyebut nikmat Allah yang demikian banyak ada
pada dirinya?!
- Memanfaatkan
nikmat-nikmat tersebut dalam rangka mendapatkan keridhoan Allah Ta'ala. Nikmat
yang Allah berikan, selayaknya dimanfaatkan pada perkara yang dapat mendatangkan
keridhoan Allah. Jika Allah beri kendaraan, maka gunakan kendaraan tersebut
untuk menghadiri majlis-majlis ilmu, dalam ibadah kepada Allah. Oleh
karena Allah murka jika nikmat yang Allah beri, digunakan dalam kemaksiatan,
dalam hura-hura dan bukan di jalan Allah.
Adapun
cara untuk mengetahui bahwa nikmat Allah begitu besar kepada diri kita, adalah;
janganlah melihat ke atas namun hendaklah melihat ke bawah kepada orang lain
yang keadaannya ‘lebih lemah’. Sebab jika seseorang melihat ke atas yakni
kepada orang yang ‘lebih darinya’, maka
dia akan memandang remeh nikmat Allah yang telah Allah karuniakan
untuknya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda:
انْظُرُوا
إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُم وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ,
فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اَللَّهِ عَلَيْكُمْ
“Lihatlah
orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu
karena hal itu lebih patut agar engkau sekalian tidak menganggap rendah nikmat
Allah yang telah diberikan kepadamu.” (Muttafaqun ‘alaih).
Kemudian, hendaklah memiliki sifat qanaah
(merasa cukup dengan apa yang Allah beri) sehingga tidak terbesit dalam
hati ambisi dan ketamakan. Karena dalam perkara nikmat Allah berupa harta benda
misalnya, maka sejatinya orang yang kaya adalah yang luas hatinya dan penuh
syukur, tenang dan tentram menjalani kehidupannya walau tanpa bergelimang harta.
Dan orang yang fakir sejatinya adalah yang haus dan serakah mencari dunia walau
disisinya terdapat sejumlah harta..............
Wallahu Waliyut Taufiq
Disadur dan diringkasi dari: Buku SYARAH AL-QAWAA'IDUL ARBA', penulis Al-Ustadz Junaid Ibrahim Iha, penerbit MDHJayapura.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar